Monday, November 19, 2012

Rindu

Ketika rindu datang menyelimuti
Hanya imajinasi yang menghangatkannya
Kini aku bermusuhan dengan kenyataan

Aku anggap kamu ada, ketika kamu tak ada
Aku anggap kamu sayang, ketika kamu tak sayang
Aku anggap kamu merindu, ketika kamu tak rindu

Melupakan tak akan mungkin
Mengikhlaskan yang mungkin
Mengenang masa lalu yang mungkin
Menggambarkan masa depan yang tidak mungkin

Waktu dan angin berlalu saja tanpa memikirkan
Kau berlalu saja tanpa memikirkan

Air yang menggenang ditempat yang sama kini sering ditemui di pelupuk mataku
Terjatuh...
Membawa beban rindu yang kini tidak tebendung lagi.
Munkin begini caranya untuk mengikis batu rindu.

Aku ingin menyayangimu tanpa kau harus menyayangiku
Aku ingin kau ada
Aku ingin kau nyata


Float - Sementara

Sementara
Teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh

Sementara
Ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara
Lupakanlah rindu
Sadarlah, hatiku
Hanya ada kau dan aku

Dan sementara
Akan ku karang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara

Untuk sementara saja...
Untuk sementara saja...

Bersyukur Atau Malah Takut?

Gw bingung, harusnya bersyukur atau takut?

Malam ini gw ga bisa tidur. Akhirnya gw iseng cari-cari buku yang belum gw baca sepenuhnya. Gw mencari buku yang berbau motivasi-motivasi dan didalamnya pasti menyuruh kita untuk bersyukur. Apa yang memacu rasa syukur dan motivasi? Yaitu cobaan-cobaan dalam hidup yang kerap kali menimpa kita. Hal tersebut juga dapat menjadi suatu pecut agar manusia selalu berlari, sehingga mencapai tujuan lebih cepat dan pasti.

Pertanyaannya adalah: apakah melulu harus selalu musibah / cobaan yang bisa menjadi sebuah pecut? Kalau seandainya gw udah bersyukur atas hidup gue, gimana dong? Kalau gue merasa hidup gw bahagia-bahagia aja, gimana dong? Masa gw malah minta sama Allah SWT untuk didatengin musibah? Engga toh? Atau mungkin kebahagiaan-kebahagiaan yg gw alami lah yang sebenarnya menjadi musibah? Atau malah yang lebih buruk lagi, musibah yang besar buat gw, masih tidur didalam gunung, dan tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti musibah tersebut akan terbangun dr tidurnya dan meluap ke permukaan yang mengakibatkan ledakan dahsyat di kehidupan gue......

Jadi, harusnya gue bersyukur atau malah takut?

Wednesday, November 7, 2012

Pelukan Terakhir

Ya, pelukan terakhir...

Pelukan terakhir ini termasuk sangat singkat bila dibandingkan dengan pelukan-pelukan yang sebelumnya kita alami. Tahukan kamu saat itu hatiku berdegup kencang? bukan grogi atau malu, tapi takut dan kalut. Kenapa? Karena aku, kamu, kita, tahu bahwa ini adalah pelukan terakhir.

Pelukan itu... aku tidak ingat rasanya seperti apa. Semuanya salahmu! Karena tidak memperingatkan aku, si orang yang tidak mau pelukan itu adalah pelukan terakhir, atas pelukan yang ternyata adalah benar-benar pelukan terakhir.

Pelukan itu seperti mengatakan "selamat tinggal.. Aku tidak akan kembali, karena bila ku kembali, semua kesakitan, keraguan dan ketidakpastian ini tidak akan terhenti. Aku harus pergi, demi kebaikan kamu dan kamu"

Hatiku rasanya ingin meledak dan membeku. Rasanya, kebaikan yang terjadi bukanlah kebaikan yang sesungguhnya terbaik. Terbaik yang terjadi adalah terbaik yang bukan aku pikir terbaik.

Kau adalah satu-satunya yang bertanggung jawab atas segala rindu. Segala rindu yang berjumlah ratusan lusin dengan volume berat ribuan ton ini.

Aku rindu kita yang dahulu.

Bukan yang kini, dimana realita seolah-olah mempermanenkan diri diantara kita dengan keegoisannya yang merenggut semuanya, termasuk keraguanmu.

Kini, pesaing berat telah keluar dari arena, dengan kemenangan telak yang berhadiahkan dirimu.

Aku tidak INGIN atau MUNGKIN..... tapi HARUS menyerah.