Friday, December 30, 2016

Rindu

Rindu seperti hutan mati
Banyak yang peduli
Namun enggan memasuki

Sekali masuk,
Lalu terjebak masa lalu
Sekali keluar,
Lukanya tak bisa dicekal
Cahaya setitik menerangi semua
Gelap sedikit menggelapkan semua



(Lagi)




Aku sedang berada disaat pilihan menyapaku (lagi).
Untuk mencinta (lagi) atau untuk memberikan kesempatan pada diri (lagi). 

Pintu untuk mencinta (lagi) untuk sekarang tidak sulit, aku bisa saja masuk tanpa permisi.
Untuk memberikan kesempatan pada diri (lagi), bagaikan jendela rongsokan yang sulit dibuka, engselnya mampet, kacanya keruh dan tralisnya rapuh. Jendela rusak, karena oleh diri sering dibuka tutup. 

Tidak mudah bagiku untuk memberikan kesempatan (lagi) pada diri: langkahku pernah berhasil masuk, tapi selalu gagal dibagian siku. Selalu mulut berbicara lebih tinggi dari perilaku. Alat bukti bagaikan makhluk ghaib, tidak pernah terlihat, namun banyak yang mengaku bersua. 

Bisa kah kali ini aku diberikan (lagi) kesempatan untuk diri, sebelum pintu untuk mencinta (lagi) tertutup rapat?

Apa memang harus memberikan kesempatan untuk diri tanpa peduli akan pintu untuk mencinta (lagi)? 

Ok, kalo itu maumu, shen. 

Tapi please, kali ini naik kelas kek!