Friday, November 10, 2017

Iseng

Hal yang paling menyakitkan padahal belum terjadi adalah... ketika orang yang kita cintai suatu saat akan mencintai seseorang dan akan berbahagia dengan orang lain...bukan dengan kita. 

Tuesday, May 23, 2017

Tolong dimengerti

Rasa cinta yang jatuh merupakan misteri terbesar. Tak ada satuan pengamanan untuk mencari tahu keberadaannya, tak ada tim investigasi untuk mencari motifnya, tak ada pengacara untuk melakukan pembelaan praduga tak bersalahnya, tak ada dokter ahli dalam penyembuhannya.

Namun ketika rasa cinta sudah lompat bebas jatuh dari batas jurang, siapa yang bisa disalahkan? 

Kita.

Lalu kita bisa menyalahkan siapa?

Hati sendiri.

Setega itu kah aku akan menyalahkan hati sendiri?

Ini, aku beri alasan dan penjelasan kenapa aku telah jujur. 

Melihat hatiku, seperti melihat Jakarta. Keriuhan dan ketenangan menjadi satu. Terserah siapa yang mau riuh, terserah siapa yang mau tenang. Semua pada ruangannya masing-masing. 

Ketika hatiku jatuh cinta, seperti melihat Jakarta dibanjiri air bah, seperti melihat Jakarta pada jam 5 sore sampai jam 7 malam, seperti melihat Jakarta krisis di bulan Mei tahun 1998. Semua yang riuh, semua yang tenang, berkolaborasi menjadi satu. Kacau balau. Semua panik. Butuh evakuasi. Seperti ingin mati saja. 

Kalau sudah seperti itu, masih tega kah aku lagi-lagi menyalahkan hati sendiri?

Maaf, aku harus jujur, karena Ini sudah kesekiankalinya hatiku diporak-porandakan, sudah kesekiankalinya hatiku bergelimang ampas, dan sudah kesekiankalinya aku menyalahkan hati sendiri yang sering mencintai orang yang salah....oh maaf, mungkin bagimu bukan mencintai, tapi "mengganggu".

Hanya bisa berharap...
Setidaknya, bisa kah kita mencintai orang yang telah mencintai kita?
Itu akan lebih mudah rasanya
Tak ada lagi penolakan
Tak ada lagi menyakiti

Semua bisa mudah, semudah bersalaman lalu saling jatuh cinta. Semudah tatap menatap lalu saling jatuh cinta. Semudah proses Imprint seperti kaum werewolf di film Twilight, semudah proses Tsayhelu pada suku Pandora di film Avatar. 

Seandainya. 


:)


Sunday, March 12, 2017

Shena sotoy ngomongin ibu-ibu

Sudah terlalu banyak calon-calon ibu disekitar gue yang kepengen melahirkan dengan cara yang "berbeda" dari biasanya. Mungkin ada kelebihan yang bisa diambil dari melahirkan-dengan-cara-yang-berbeda-itu bagi calon bayi dan ibunya....


Namun, ada kata2 teman saya yang bikin saya tergelitik sekali... 


"NIH LAMA-LAMA CALON-CALON IBU SAKING PENGEN BEDANYA MELAHIRKAN DAN SAKING PENGENNYA JADI TOPIK IBU-IBU LAINNYA, NNTI ADA INOVASI TERBARU NIH = MELAHIRKAN DI LUMPUR TRUS ARI-ARINYA DIMAKAN. NTAR ADA HASHTAG #MUDLABOR #EATMYBABYLOTUS"


Ini lucu sih. Tepuk tangan untuk teman2 saya yang skrg adalah ibu baru bagi anaknya. Perangnya lebih sadis. Sikut2an antara ibu "anak gue lebih ok", "cara ngedidik gue ke anak gw lebih ok", "pampers gue lebih ok", "susu gue lebih mahal". GOKIL. Gw pikir cuma terjadi di sinetron, ternyata ini KENYATAAN. 


Ibu2 yang "gamau kalah" itu ga sadar, bahwa ada ibu2 lainnya diluar sana yang ternyata anaknya tidak sesempurna itu, stress menghadapi lingkungan yang seperti itu, stress melihat post ibu2 "gamau kalah" tersebut, dan akhirnya ibu2 yang kurang beruntung itu menangis karena ternyata anaknya tidak sesempurna itu.


Namun ibu2 yang "gamau kalah" itu, ga sadar bahwa anaknya juga tidak sesempurna itu dan ga sadar bahwa selama ini sbnrnya dia sangat pintar menyembunyikan kekurangan anaknya. Yang dia pikirkan adalah post apa yang membuat IMEJ anaknya menjadi baik dan IMEJ dia sebagai ibu yang baik.


Gue yang sebagai belum menjadi ibu, melihat hal ini sebagai pembelajaran: 


Bahwasanya, anak dilahirkan adalah bukan sebagai garis start kompetisi bagi ibunya dengan ibu lain atau anaknya dengan anak lain. Ini adalah garis start antara ibu dan anaknya. Karena yang orang liat adalah bukan garis start nya, namun garis finishnya. Yang saya maksud sebagai garis finish adalah: Sebodoh-bodohnya seorang ibu dan sepintar-pintarnya seorang ibu, yang dilihat adalah: Apakah dia berhasil menjadi ibu dari anak2 yang berhasil, bermanfaat, teladan dan mencintai keluarga; dan apakah dia berhasil menjadi istri dari suami yang sukses, bijaksana dan mencintai keluarga.


Terserah mau ASI anda sebagai ibu berkualitas atau tidak, terserah kalau anak anda menderita alergi thdp suatu makanan, terserah kalau anda mempunyai anak yang mempunyai tumbuh kembang yang tidak tepat waktu, terserah mau anak anda berkulit hitam atau putih, terserah mau anak anda belum bisa calistung pada waktunya, terserah mau anak anda belum bisa berbicara  atau merangkak atau jalan pada waktunya.... ITU ADALAH PERJUANGAN ANDA SENDIRI DENGAN ANAK ANDA, BUKAN PERJUANGAN ANDA DENGAN IBU LAINNYA, ATAU BUKAN PERJUANGAN ANAK ANDA DENGAN ANAK LAINNYA.  


Friday, December 30, 2016

Rindu

Rindu seperti hutan mati
Banyak yang peduli
Namun enggan memasuki

Sekali masuk,
Lalu terjebak masa lalu
Sekali keluar,
Lukanya tak bisa dicekal
Cahaya setitik menerangi semua
Gelap sedikit menggelapkan semua



(Lagi)




Aku sedang berada disaat pilihan menyapaku (lagi).
Untuk mencinta (lagi) atau untuk memberikan kesempatan pada diri (lagi). 

Pintu untuk mencinta (lagi) untuk sekarang tidak sulit, aku bisa saja masuk tanpa permisi.
Untuk memberikan kesempatan pada diri (lagi), bagaikan jendela rongsokan yang sulit dibuka, engselnya mampet, kacanya keruh dan tralisnya rapuh. Jendela rusak, karena oleh diri sering dibuka tutup. 

Tidak mudah bagiku untuk memberikan kesempatan (lagi) pada diri: langkahku pernah berhasil masuk, tapi selalu gagal dibagian siku. Selalu mulut berbicara lebih tinggi dari perilaku. Alat bukti bagaikan makhluk ghaib, tidak pernah terlihat, namun banyak yang mengaku bersua. 

Bisa kah kali ini aku diberikan (lagi) kesempatan untuk diri, sebelum pintu untuk mencinta (lagi) tertutup rapat?

Apa memang harus memberikan kesempatan untuk diri tanpa peduli akan pintu untuk mencinta (lagi)? 

Ok, kalo itu maumu, shen. 

Tapi please, kali ini naik kelas kek!

Wednesday, June 15, 2016

Untuk yang ditinggalkan

Kamu terbaring sebelahku
Aku berdiri sebelahmu
Engkau tutup mata
Aku buka mata

Walau hati kita dekat
Raga hanya beda selangkah
Namun kutahu, kini kita beda dunia
Selamat tinggal cinta

Ku mulai merindukan kita
Tertawa menangis bersama
Kamulah yang aku lindungi
Tapi aku bukan Tuhan

Bersujud menagih harap
Menangis merindu cinta
Tertidur bermimpi asa
Mengingat Engkau yg terkenang
Selamat tinggal cinta

Catatan sore hari

Sudah biasa ku di pandang sebelah mata
Sudah biasa ku di temani ketika diatas awan
Lalu di injak ketika ku berada di bawah

Ku Dipuja, berarti kosong
Ku Dicela, berarti dengki
Namun kelak lihatlah
Aku yang kau kira tak bisa
Ternyata mampu

Kawan coba lah tulis kurangku
Ku tahu, itu kan lebih banyak dari lebihku

Mungkin kini tak tampak
Tp nanti kau terbelalak

Friday, June 26, 2015

26 Juni 2015

Berikan aku kekuatan. Tolong. Agar semuanya akan berjalan baik-baik saja. Agar semuanya akan terasa indah-indah saja. Aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari kegagalan, kemunafikan dan kesalahan. Perasaan hanyalah perasaan. Aku hanya manusia yang sejatinya tidak bisa membohongi perasaan diri sendiri. Tolong. Berikan aku kekuatan dan kemampuan dalam menghadapi semua ini. Aku hanya tak mampu membendungnya. Jadikan ini hanya sebatas bola sabun, jangan sampai ada yang bisa memecahkannya, bahkan diriku sendiri. Biarkanlah bola sabun itu melayang-layang di udara, tanpa tahu kemana arah, dan tanpa seorangpun tahu apa isinya, kecuali aku. Marilah, Hati, kau pasti bisa. Kau pasti bisa. 

Sunday, April 26, 2015

Jatuh sejatuh jatuhnya cinta

Setidaknya, didepanku kau tak perlu menjaga kesan dirimu. 

Setidaknya, aku disini, menerimamu apa adanya. 

Setidaknya, kamu jangan khawatir. Aku terima dan akan belajar menyukai kekuranganmu.

Setidaknya, aku disini, mencintaimu sepenuh hati.

Kemarilah, lihatlah dulu sebentar diriku. Bila kau tak suka, kau boleh berjalan lagi. Tapi, setidaknya, lihatlah aku, sebentar saja.